Sabtu, 14 Maret 2026

UMKM di Batam Bertahan dalam Tekanan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Mariani bersama beberapa rekan-rekannya memperlihatkan produk olahan ikan tenggiri yang diberinama Azzuri Snack. Foto: Yulitavia/batampos.co.id

Para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Batam berusaha bertahan di tengah impitan kenaikan harga-harga. Bantuan pemerintah dan digitalisasi produk bisa jadi jalan keluar.

Reporter: YULITAVIA, JUANDA

DITERJANG berbagai cobaan, usaha keripik yang dirintis dan dijalankan Moni Bestila bertahan hingga kini. Didirikan sejak 2003 silam, Moni menjadikan usaha tersebut sebagai sandaran utama untuk mengarungi hidup di Batam.

“Kalau dari kami tentu ingin bertahan. Karena usaha keripik ini merupakan mata pencaharian. Jadi kalau berhenti beroperasi, mau bagaimana melanjutkan kehidupan di kota yang memiliki biaya hidup cukup tinggi ini,” kata dia, Kamis (15/9).

Moni menyebutkan, salah satu faktor yang membuatnya mampu bertahan melewati beragam krisis, adalah bantuan permodalan dari Pemerintah Kota Batam.

Ia mengajukan bantuan modal sebesar Rp 100 juta dengan menjaminkan sertifkat tanah miliknya. Dengan bunga 4 persen flat sampai masa tenor selesai, cukup membantu pelaku usaha seperti Moni selama masa pandemi.

“Alhamdulillah, bisnis keripik masih berjalan sampai saat ini. Saya sudah cukup lama juga menjadi nasabah di Dana Bergulir Pemko Batam tersebut,” ujarnya.

Ia berharap jumlah pinjaman bisa meningkat sebab usaha miliknya memang membutuhkan bantuan permodalan yang cukup tinggi. Ditambah lagi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sejak dua pekan terakhir.

“Untuk harga kami tidak ada kenaikan. Sebab kami masih menjaga pelanggan yang sudah ada saat ini. Kalau naik, nanti mereka tidak beli keripik lagi, mungkin lebih memilih beli beras,” ujarnya.

Agnes Dhamayanti, pelaku UMKM bidang kuliner, mengatakan kenaikan BBM dipastikan memberikan dampak pada jalannya roda usaha. Namun, untuk saat ini, usaha bakso yang ia rintis bersama kawan-kawannya belum menaikkan harga.

“Biarlah dulu, harganya segini saja. Lagian, kami juga masih promo diskon 20 persen,” ujar Agnes.

Agnes mengatakan, banyak jenis bahan baku yang naik. Meski terasa berat, karena usahanya masih baru, kata Agnes, mereka tidak langsung menaikkan harga, atau berharap keuntungan langsung.

“Harga BBM ini mempengaruhi beberapa hal. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan pedagang, menaikkan harga atau mengurangi porsi (ukuran makanan). Tapi kami tidak memilih kedua cara tersebut,” ujarnya.

Agnes memilih menaikkan harga di usahanya yang lain. Sebab, warung bakso bukanlah usaha kuliner yang baru bagi Agnes. Sebelumnya, ia telah merintis usaha dengan nama Ayam Rujak Mahira. Usaha ini cukup terkenal dan sudah tersedia dalam bentuk frozen.

“Kalau di Mahira, saya memilih menaikkan harga. Biasanya harganya Rp75 ribu, sekarang menjadi Rp80 ribu,” ujarnya.

Agnes mengatakan, kendati kenaikan BBM cukup memberikan dampak, tapi tidak menyurutkan semangatnya. Ia mengatakan, semua usahanya dimulai dari nol. Oleh sebab itu, berbagai rintangan sudah dialaminya. Tentunya kenaikan BBM tidak menjadi halangan.

“Saya mulai usaha kuliner ini sejak 2015, merintisnya cukup sulit. Baru mulai meningkat itu di 2019-an sampai sekarang,” ujarnya.

Mulai meningkatnya usaha ini, kata Agnes tak lepas dari dukungan keluarga dan teman-temannya. Agnes mengaku mengikuti berbagai organisasi, hal itu demi menggali pengetahuan tentang dunia kuliner dan dagang.

“Usaha itu tidak sia-sia. Kini Ayam Rujak Mahira sudah punya izin PIRT, halal dan sedang mengurus untuk BPOM-nya,” ungkap Agnes.

Ia berharap masyarakat yang sedang menjalani usaha kecil-kecilan tetap semangat dan pantang menyerah.

Cerita Agnes ini, hampir sama dengan sebagian besar pelaku UMKM di Batam yang bertahan di tengah kenaikan harga BBM. Menyerah bukanlah jalan keluar, inovasi dan maju ke depan adalah cara menyongsong masa depan.

Kenaikan harga BBM memberikan dampak luas pada dunia usaha. Hal ini disampaikan oleh Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam, Jadi Rajagukguk.

“Tidak hanya BBM yang naik, tapi beberapa item lainnya, bahan pokok ikut melambung jadinya,” kata Jadi.

Peran pemerintah, kata Jadi, harusnya menjaga agar harga-harga bahan pokok ini tidak ikut naik. Sehingga, masyarakat pun tidak terlalu merasakan dampaknya.

“Jika tidak bisa menjaga harga bahan pokok, berikan para pelaku UMKM subsidi atau bantuan,” ujarnya.

Bagi pelaku UMKM, kata Jadi, kenaikan harga BBM sebenarnya dapat diatasi, dengan cara menaikkan harga produk mereka. “Tapi yang terjadi kadang begini, tidak dinaikkan menjadi rugi, dinaikkan omset menurun. Serba salah jadinya,” ungkap Jadi.

Oleh sebab itu, kata Jadi, pemerintah dirasa perlu hadir untuk membantu para pelaku UMKM tersebut.

“Pemerintah Batam lagi bangun infrastruktur nih, tolong setengahnya dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk bantuan. Hal ini dapat meringankan beban masyarakat,” ucap Jadi.

Ia mengatakan, orang-orang terdampak BBM, tidak sepenuhnya mendapatkan BLT atau BSU dari pemerintah. “Mereka adalah warganya pemerintah, juga butuh perhatian,” tuturnya.

Digitalisasi Produk

Salah satu cara UMKM bertahan dan berkembang adalah melakukan digitalisasi produk, terutama dari sisi marketing. Vice President Area Account Management Telkomsel, Samuel Pasaribu, menjelaskan Telkomsel sebagai salah satu penyedia jasa telekomunikasi, memberikan perhatian khusus untuk mendorong pelaku UMKM lebih go digital, guna memperlebar pasar bagi produk yang dihasilkan.

Dalam salah satu programnya, Telkomsel mendorong digitalisasi pada empat sektor UMKM, fashion, food and beverage, craft, dan personal care. Empat bidang usaha ini merajai jenis bisnis yang tengah berkembang di Indonesia.

“Untuk itu kami membuka kesempatan bagi pelaku usaha di bidang tersebut, untuk bergabung dan belajar serta memperluas pengetahuan mereka agar lebih baik dalam mengelola dan memasarkan bisnis mereka,” ujarnya.

Kegiatan ini sekaligus mengenalkan pentingnya penetrasi para pelaku UMKM dalam mengoptimalkan platform digital untuk menarik perhatian target market dengan menyajikan konten yang kreatif dan menarik.

Untuk mengikuti program ini, pelaku UMKM harus memenuhi persyaratan yang dibutuhkan antara lain adalah warga negara Indonesia (WNI), memiliki bisnis, bukan reseller atau dropshipper maupun sejenisnya dan termasuk ke dalam empat kategori industri di bidang kriya, busana, makanan dan minuman, serta kategori perawatan pribadi. (*)

SALAM RAMADAN