Selasa, 27 Januari 2026

Ekonomi Kepri Tumbuh 7,48 Persen, Paling Kuat di Sumatera

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Berdasarkan data BPS, ekonomi Kepri tumbuh 7,48 persen (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 7,14 persen. Foto. M. Sya’ban/ Batam Pos

batampos – Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) kembali mencatatkan kinerja kuat pada triwulan III 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kepri tumbuh 7,48 persen (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 7,14 persen.

Secara kumulatif sejak Januari hingga September 2025, pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai 6,60 persen, menjadikannya provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Sumatera. Kontribusinya terhadap PDRB Sumatera juga signifikan, yakni 7,07 persen, jauh di atas rata-rata pertumbuhan Sumatera yang hanya 4,90 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Rony Widijarto, menyebut penguatan ekonomi terutama ditopang sektor industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, dan perdagangan. Industri pengolahan tumbuh 6,82 persen, terdorong kepastian tarif resiprokal dengan Amerika Serikat. Sementara pertambangan melonjak 19,83 persen seiring berlanjutnya produksi dari dua sumur migas baru di Natuna.

Sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan 5,71 persen, didukung proyek strategis termasuk kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri (KI). Sedangkan perdagangan meningkat 5,54 persen, seiring meningkatnya kegiatan MICE dan pariwisata.

Pertumbuhan ekonomi Kepri juga tercermin pada sektor keuangan. Penyaluran kredit tumbuh 20,61 persen, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 14,06 persen, dan total aset perbankan meningkat 13,14 persen. Pembiayaan kepada korporasi melonjak 26,37 persen, sementara UMKM tumbuh 12,96 persen.

Bank Indonesia mencatat digitalisasi transaksi semakin menggeliat. Hingga September 2025, transaksi QRIS mencapai 54,94 juta kali, melonjak 181,93 persen dari tahun lalu, dengan nilai transaksi Rp7,71 triliun atau naik 140,62 persen. Transaksi lintas negara ke Thailand, Malaysia, dan Singapura juga meningkat signifikan.

Meski ekonomi terus melaju, inflasi Kepri tetap terkendali. Oktober 2025, inflasi hanya 0,36 persen (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya 0,64 persen. Secara tahunan, inflasi tercatat 3,01 persen, sedikit naik dari September 2,70 persen. Penyumbang inflasi terbesar adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, naik 3,88 persen akibat kenaikan harga emas perhiasan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami deflasi 0,18 persen.

Ke depan, Rony optimistis perekonomian Kepri masih memiliki ruang tumbuh positif. Proyek strategis nasional, KEK, kawasan industri, dan meningkatnya mobilitas masyarakat diyakini akan terus mendorong pertumbuhan.

Bank Indonesia bersama pemerintah daerah juga memperkuat koordinasi melalui Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), sementara pengendalian inflasi difokuskan pada komoditas pangan strategis seperti cabai merah keriting, cabai rawit merah, dan cabai merah besar melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi yang solid dan inflasi yang terjaga, Kepri dinilai berada pada jalur positif menuju akhir 2025. (*)

Reporter: M. Sya’ban

Update