Senin, 13 Juli 2026

Modernisasi TPK Batu Ampar Tingkatkan Produktivitas dan Tekan Biaya Logistik Batam

Berita Terkait


Aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar, Batam. Modernisasi terminal meningkatkan produktivitas, mempercepat layanan kapal, dan memperkuat konektivitas pelayaran internasional. Foto: BP Batam.

batampos – Modernisasi Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar mulai menunjukkan hasil signifikan. Peningkatan produktivitas bongkar muat, efisiensi operasional, hingga bertambahnya layanan pelayaran langsung (direct call) berhasil memperkuat posisi Batam sebagai hub logistik regional.

Pengembangan terminal dikelola PT Batam Terminal Petikemas (BTP) bersama PT Batu Ampar Container Terminal (BACT) sebagai mitra kerja sama BP Batam. Modernisasi didukung investasi sekitar US$85 juta yang digunakan untuk pembaruan alat bongkar muat, perluasan lapangan penumpukan, peningkatan kapasitas terminal, serta digitalisasi layanan kepelabuhanan.

Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan transformasi TPK Batu Ampar merupakan bagian dari strategi BP Batam membangun ekosistem logistik yang modern dan berdaya saing di Asia Tenggara.

“Sejalan dengan arahan Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, pengembangan TPK Batu Ampar akan terus dipercepat sebagai upaya mewujudkan sistem logistik yang modern, efisien, dan meningkatkan daya saing Batam sebagai kawasan perdagangan bebas, industri, serta tujuan investasi,” ujar Denny dalam keterangan resmi, Jumat (10/7/2026).

Produktivitas Naik, Waktu Sandar Kapal Turun

Hasil modernisasi terlihat dari peningkatan produktivitas operasional terminal. Container Handling Productivity meningkat dari 18 BCH menjadi 24 BCH, atau naik sekitar 33 persen.

Sementara itu, Ship Handling Productivity melonjak lebih dari tiga kali lipat, dari 12 BSH menjadi 40 BSH.

Efisiensi tersebut berdampak pada waktu pelayanan kapal. Vessel Turnaround Time berhasil dipangkas 65 persen, dari rata-rata 20 jam menjadi hanya 7 jam. Adapun Waiting Time turun dari 1,4 jam menjadi 0,6 jam atau berkurang sekitar 57 persen.

Arus Peti Kemas Tumbuh

Sepanjang Januari–Mei 2026, TPK Batu Ampar mencatat arus peti kemas mencapai 221.183 TEUs. Dari jumlah tersebut, aktivitas ekspor mencapai 71.930 TEUs atau sekitar 32,5 persen, mencerminkan pertumbuhan sektor manufaktur dan perdagangan di Batam.

Peningkatan layanan juga diikuti bertambahnya frekuensi pelayaran langsung. Kapal berkapasitas 1.200–2.000 TEUs kini beroperasi 10–13 kali per bulan, meningkat dari sebelumnya hanya 6–7 kali.

Terminal juga melayani kapal berkapasitas 1.000–1.900 TEUs sebanyak dua kali setiap bulan serta kapal 1.000 TEUs sebanyak satu hingga dua kali per bulan.

Biaya Logistik Lebih Murah

Konektivitas direct call memberikan manfaat langsung bagi pelaku usaha. Biaya pengiriman rute Batam–Shanghai kini turun menjadi sekitar US$650–800 per kontainer 20 kaki, lebih rendah dibandingkan skema sebelumnya melalui Singapura yang mencapai US$950–1.100.

Efisiensi tersebut menghasilkan penghematan hingga US$300 per kontainer atau sekitar 30–50 persen, sekaligus memangkas waktu pengiriman menjadi sekitar delapan hari.

Di sisi operator pelayaran, efisiensi waktu sandar hingga 17 jam per kapal mampu menekan biaya operasional sekitar US$3.800 setiap kunjungan kapal.

Siapkan Sistem Direct Billing

Selain pengembangan fisik, BP Batam bersama pengelola terminal juga menyiapkan penerapan sistem Direct Billing yang memungkinkan pembayaran layanan dilakukan langsung kepada pengelola terminal secara real-time.

Sistem ini diharapkan dapat memangkas birokrasi, meningkatkan transparansi, mempercepat proses administrasi, serta menurunkan dwelling time.

Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, menilai capaian tersebut menunjukkan pengembangan TPK Batu Ampar berada di jalur yang tepat.

Sementara itu, Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, mengatakan pengembangan berikutnya akan difokuskan pada perluasan terminal, pengerukan kolam pelabuhan agar dapat melayani kapal berukuran lebih besar, serta penguatan ekosistem digital kepelabuhanan untuk mendukung pertumbuhan investasi dan perekonomian nasional. (*)

UPDATE

Play sound