Sabtu, 13 Juni 2026

Dari Kasus Bunuh Diri Pelajar SMP di Nongsa, Psikolog Soroti Sistem Dukungan Anak

Berita Terkait

Ilustrasi remaja yang mengalami depresi. (F.ChatGPT)

batampos – Tewasnya seorang pelajar SMP di Kampung Tengah, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kamis (11/6), menjadi perhatian berbagai pihak. Peristiwa yang menimpa SH, siswa kelas IX salah satu SMP negeri di Nongsa itu dinilai menjadi pengingat pentingnya penguatan sistem dukungan bagi anak dan remaja.

Psikolog Irfan Aulia menilai kasus yang melibatkan anak dan remaja, termasuk kematian yang diduga berkaitan dengan tekanan psikologis, perlu dilihat secara lebih luas, bukan semata sebagai persoalan individu.

Menurutnya, sejumlah kasus kekerasan maupun kematian anak yang terjadi belakangan menunjukkan adanya persoalan dalam sistem dukungan sosial yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak untuk bertumbuh.

“Anak-anak seharusnya melihat keluarga sebagai rumah yang aman dan nyaman. Namun dalam beberapa kasus, ada anak yang justru merasa berada dalam situasi yang menegangkan sehingga menjadi lebih rentan terhadap tekanan psikologis,” ujarnya, Kamis (11/6).

Baca Juga: Data Centre Jantung Baru Pertumbuhan Ekonomi

Irfan mengatakan, anak-anak usia sekolah dasar maupun sekolah menengah dapat mengalami gangguan kesehatan mental yang serius apabila tidak mendapatkan dukungan emosional yang memadai dari lingkungan sekitar.

Ia mencontohkan kasus serupa yang pernah terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana seorang anak usia sekolah dasar mengalami tekanan psikologis berat.

“Banyak orang masih beranggapan anak-anak belum bisa mengalami depresi berat. Faktanya, anak usia 10 tahun sekalipun dapat mengalami kondisi tersebut apabila menghadapi tekanan yang tidak tertangani,” katanya.

Karena itu, Irfan menilai peristiwa yang terjadi di Batam perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurutnya, persoalan kesehatan mental anak tidak bisa dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah, melainkan membutuhkan perhatian seluruh elemen masyarakat.

“Ini bukan hanya persoalan individu. Ada sistem yang perlu dibenahi bersama agar kasus-kasus seperti ini tidak terus berulang,” ujarnya.

Baca Juga: Warga Batam Ramai Beralih ke Pertalite, Pendaftaran Barcode BBM Subsidi Dikeluhkan

Ia juga mengimbau orang tua, guru, dan lingkungan sekitar agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, sekecil apa pun. Perubahan suasana hati, penurunan semangat belajar, hingga kecenderungan menarik diri dari pergaulan dapat menjadi tanda yang perlu mendapat perhatian.

“Kehadiran emosional yang stabil dan konsisten sangat penting bagi anak. Mereka perlu memahami bahwa persoalan hidup adalah tanggung jawab orang dewasa, bukan beban yang harus mereka tanggung sendiri,” kata Irfan.

Menurutnya, komunikasi yang terbuka, dukungan tanpa menghakimi, serta ruang aman untuk bercerita merupakan langkah sederhana namun penting untuk membantu anak menghadapi berbagai tekanan yang mereka alami. (*)

 

UPDATE