Jumat, 10 Juli 2026

Data Center Padat Modal, Serapan Tenaga Kerja Tidak Besar

Berita Terkait

Foto udara pembangunan data center di KEK Nongsa Digital Park, Selasa (16/6). BP Batam terus memberi kemudahan pada para investor yang datang berinvestasi di Batam. Foto: Teguh Prihatna/Antara

batampos – Gelombang investasi data center senilai lebih dari Rp120 triliun yang mulai mengalir ke Batam memang membuka babak baru transformasi ekonomi daerah. Namun, besarnya nilai investasi tersebut dinilai tidak otomatis mampu menjawab persoalan klasik Kota Batam, yakni tingginya angka pengangguran dan derasnya arus migrasi pencari kerja.

Akademisi sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam, Suyono Saputra, menilai karakter industri pusat data sangat berbeda dengan manufaktur yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja di Batam. Menurutnya, data center merupakan industri padat modal, padat energi, dan padat teknologi, tetapi relatif minim menyerap tenaga kerja.

“Data center memang memberikan multiplier effect yang besar terhadap ekonomi daerah. Namun, efeknya lebih banyak dirasakan pada sektor fiskal, properti, dan utilitas, bukan pada penciptaan lapangan kerja secara langsung,” kata Suyono kepada Batam Pos, Kamis (9/7).

Ia menjelaskan, manfaat terbesar investasi data center setidaknya muncul pada tiga sektor utama. Pertama, peningkatan penerimaan negara maupun daerah melalui pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), bea masuk, hingga sewa lahan dan utilitas.

Baca Juga: Lahan Bekas Tambang Pasir Sudah Ditimbun, Tersangka Tak Kunjung Ditetapkan

Menurutnya, satu proyek data center berkapasitas sekitar 100 megawatt membutuhkan investasi sekitar USD1 miliar hingga USD1,5 miliar. Nilai investasi sebesar itu berpotensi menghasilkan penerimaan yang signifikan bagi pemerintah.

“BP Batam berpotensi memperoleh PNBP dari sewa lahan dan utilitas yang diperkirakan mencapai Rp2 triliun hingga Rp3 triliun setiap tahun. Ini tentu menjadi penerimaan yang cukup besar bagi negara maupun BP Batam,” ujarnya.

Efek kedua, lanjut Suyono, dirasakan sektor konstruksi dan properti. Selama masa pembangunan yang berlangsung sekitar dua tahun, proyek data center membutuhkan ribuan pekerja konstruksi serta menyerap berbagai kebutuhan material bangunan.

“Satu data center berkapasitas 50 megawatt bisa mempekerjakan sekitar 1.500 sampai 2.000 pekerja konstruksi. Tetapi setelah mulai beroperasi, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan tinggal sekitar 50 hingga 150 orang,” katanya.

Sementara manfaat ketiga berasal dari sektor utilitas. Operasional data center membutuhkan pasokan listrik, air bersih, serta jaringan telekomunikasi dalam jumlah besar sehingga turut meningkatkan pendapatan penyedia layanan.

“Untuk listrik saja, satu data center kapasitas 50 megawatt bisa membayar sekitar Rp80 miliar sampai Rp120 miliar per tahun ke PLN,” ujarnya.

Manufaktur Masih Sulit Tergantikan

Meski memiliki dampak ekonomi yang besar, Suyono mengingatkan manfaat tersebut belum tentu dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.

Menurutnya, peredaran uang dari industri data center jauh lebih kecil dibandingkan manufaktur karena jumlah tenaga kerja yang menerima pendapatan juga jauh lebih sedikit.

“Efek terhadap konsumsi rumah tangga relatif lemah. Gaji yang beredar hanya untuk sekitar seratus engineer, bukan untuk sepuluh ribu buruh pabrik. Dampaknya ke warung makan, pasar, hingga ojek online tentu sangat berbeda,” katanya.

Baca Juga: Diduga Aniaya Anak Kembar dan Ayahnya, Pegawai Imigrasi Dipolisikan

Ia membandingkan investasi data center senilai USD1 miliar yang rata-rata hanya mempekerjakan sekitar 80 hingga 150 tenaga kerja langsung serta 300 hingga 500 tenaga kerja tidak langsung, seperti petugas keamanan, kebersihan, dan teknisi.

Sebaliknya, investasi manufaktur dengan nilai yang sama mampu menyerap sekitar 8.000 hingga 12.000 pekerja langsung dan 15.000 hingga 20.000 tenaga kerja tidak langsung melalui sektor logistik, pemasok bahan baku, hingga berbagai industri pendukung.

“Kalau target pemerintah adalah menurunkan pengangguran dalam satu sampai tiga tahun ke depan, industri manufaktur masih menjadi pilihan paling efektif,” tegasnya.

Ancaman Kesenjangan SDM

Suyono juga mengingatkan potensi terjadinya skill gap apabila Batam terlalu cepat bergeser menuju industri digital tanpa diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, sebagian besar pencari kerja di Batam masih berasal dari lulusan SMA dan SMK yang membutuhkan pekerjaan dalam waktu relatif cepat. Sementara industri data center lebih banyak membutuhkan tenaga ahli di bidang jaringan komputer, cloud computing, kecerdasan buatan (AI), hingga teknologi informasi.

Karena itu, ia mengusulkan agar setiap investasi data center disertai kewajiban membangun SDM lokal melalui program magang dan pelatihan secara berkelanjutan.

Beberapa skema yang diusulkan antara lain program pelatihan sedikitnya 1.000 peserta setiap tahun, kewajiban penggunaan tenaga kerja lokal hingga 80 persen, serta pengembangan industri pendukung seperti vendor kabel, penyedia layanan internet lokal, hingga kontraktor sistem pendingin.

“Kalau tidak dipersiapkan sejak sekarang, data center hanya akan mengimpor engineer dari Jakarta atau bahkan Singapura,” katanya.

Jangan Tinggalkan Industri Padat Karya

Dalam jangka panjang, Suyono tetap menilai investasi data center sangat penting untuk memperkuat posisi Batam sebagai pusat ekonomi digital Asia Tenggara. Namun, transformasi tersebut tidak boleh mengorbankan industri padat karya yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar.

Ia menilai komposisi investasi yang ideal adalah sekitar 70 persen industri padat karya dan 30 persen industri padat modal berbasis teknologi.

“Kalau orientasinya meningkatkan penerimaan negara sekaligus membangun branding Batam sebagai digital hub dalam 10 tahun ke depan, data center memang pilihan yang tepat. Tetapi Batam tidak boleh memilih salah satu. Keduanya harus berjalan seimbang,” ujarnya.

Baca Juga: Libur Sekolah, Harga Ayam Potong di Batam Turun dalam Dua Pekan Terakhir

Menurut dia, apabila seluruh investasi hanya diarahkan ke sektor digital, Batam justru berpotensi kehilangan karakter sebagai kota industri.

“Kalau seratus persen ke data center, Batam bisa berubah menjadi kota kantor yang sepi pada malam hari,” katanya.

Batam Kian Dilirik Investor Digital

Sementara itu, Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat sedikitnya 20 proyek data center kini berkembang di Batam dengan total nilai investasi lebih dari Rp120 triliun. Nilai tersebut bahkan belum termasuk sejumlah proyek yang masih berada pada tahap persiapan dan belum dipublikasikan investor.

Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djamy Francis, mengatakan Batam kini semakin diperhitungkan sebagai salah satu simpul penting infrastruktur digital di Asia Tenggara. Kedekatan geografis dengan Singapura, tersedianya kawasan industri, jaringan kabel komunikasi internasional, serta iklim investasi yang semakin kompetitif menjadi daya tarik utama.

“Hingga saat ini terdapat 20 proyek data center dengan nilai investasi lebih dari Rp120 triliun yang berkembang di Batam. Jumlah tersebut belum termasuk proyek yang masih dalam tahap persiapan dan belum dipublikasikan investor karena alasan keamanan bisnis,” ujarnya.

Masuknya perusahaan-perusahaan global seperti DayOne, Princeton Digital Group (PDG), NeutraDC Nxera Batam, EGSB/Range IDC, PT GDS IDC Services, Data Center First, hingga BW Digital menunjukkan arah investasi Batam mulai bergeser dari dominasi industri elektronik dan manufaktur menuju industri digital berbasis teknologi tinggi.

Karena itu, BP Batam menargetkan realisasi investasi minimal Rp70 triliun sepanjang 2026 setelah capaian tahun sebelumnya mencapai Rp69,3 triliun. Sejumlah proyek strategis seperti DayOne Data Center, EGS AI Data Center, kawasan Tanjung Sauh, hingga PLTS Terapung diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru.

Meski demikian, tantangan terbesar ke depan bukan hanya menarik investasi, tetapi memastikan transformasi menuju ekonomi digital tetap mampu menciptakan kesempatan kerja yang luas bagi masyarakat Batam. Itulah sebabnya, keseimbangan antara industri padat karya dan industri berbasis teknologi dipandang menjadi kunci agar pertumbuhan investasi benar-benar berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat. (*)

ReporterM. Sya'ban

UPDATE