Rabu, 15 Juli 2026

Biaya Logistik Batam-Shanghai Turun

Berita Terkait

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar, Batam. Modernisasi terminal meningkatkan produktivitas, mempercepat layanan kapal, dan memperkuat konektivitas pelayaran internasional. Foto: BP Batam.

batampos – Biaya logistik ekspor dari Batam menuju Shanghai mulai menunjukkan penurunan seiring meningkatnya layanan pelayaran langsung (direct call) dari Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar. Ongkos pengiriman yang sebelumnya mencapai sekitar US$950-US$1.100 per kontainer ukuran 20 kaki kini turun menjadi US$650-US$800, atau lebih hemat sekitar US$300 per kontainer.

Penurunan biaya tersebut menjadi salah satu dampak modernisasi TPK Batu Ampar yang dilakukan Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama PT Batam Terminal Petikemas (BTP) dan PT Batu Ampar Container Terminal (BACT). Selain memangkas ongkos logistik, pembenahan pelabuhan juga mempercepat waktu sandar kapal hingga sekitar 65 persen serta meningkatkan frekuensi pelayaran langsung tanpa harus lagi transit di Singapura.

Transformasi terminal didukung investasi sekitar US$85 juta yang dialokasikan untuk pembaruan alat bongkar muat, perluasan container yard, peningkatan kapasitas terminal, serta digitalisasi layanan kepelabuhanan.

Baca Juga: Beras hingga Minyak Goreng Dipastikan Cukup, Stok Bahan Pokok Batam Aman sampai Akhir Tahun

Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan pengembangan TPK Batu Ampar merupakan bagian dari strategi besar BP Batam untuk membangun sistem logistik yang lebih efisien sekaligus meningkatkan daya saing kawasan perdagangan bebas Batam.

“Pengembangan TPK Batu Ampar akan terus dipercepat sebagai komitmen membangun sistem logistik modern, efisien, dan meningkatkan daya saing Batam sebagai kawasan perdagangan bebas serta tujuan investasi,” kata Denny dalam keterangan resmi, Senin (13/7).

Perbaikan tersebut mulai terlihat dari berbagai indikator operasional pelabuhan.

Produktivitas bongkar muat peti kemas (Container Handling Productivity) meningkat dari 18 menjadi 24 box crane per hour (BCH), atau naik sekitar 33 persen.

Produktivitas pelayanan kapal (Ship Handling Productivity) juga melonjak dari 12 menjadi 40 box ship per hour (BSH).

Peningkatan kinerja itu berdampak langsung terhadap efisiensi pelayanan kapal. Waktu putar kapal (vessel turnaround time) berhasil dipangkas dari rata-rata 20 jam menjadi sekitar tujuh jam, sedangkan waktu tunggu kapal turun dari 1,4 jam menjadi 0,6 jam.

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, volume bongkar muat di TPK Batu Ampar mencapai 221.183 TEUs. Dari jumlah tersebut, sebanyak 71.930 TEUs atau sekitar 32,5 persen merupakan peti kemas ekspor.

BP Batam juga terus memperluas layanan direct call internasional. Frekuensi kapal berkapasitas 1.200-2.000 TEUs meningkat dari semula enam hingga tujuh kali menjadi 10-13 kali setiap bulan. Selain itu, terminal kini rutin melayani kapal berkapasitas 1.000-1.900 TEUs sebanyak dua kali setiap bulan.

Baca Juga: 862 Calon Siswa Batam Belum Tersalurkan, Disdik Kepri Tambah Kuota Sejumlah SMK

Menurut BP Batam, bertambahnya layanan pelayaran langsung tersebut menjadi faktor utama yang menekan biaya logistik ekspor. Selain biaya yang lebih murah, waktu pengiriman menuju Shanghai juga dipersingkat menjadi sekitar delapan hari karena tidak lagi melalui proses transshipment di Singapura.

Efisiensi juga dirasakan perusahaan pelayaran. Dengan waktu sandar yang berkurang sekitar 17 jam per kapal, biaya operasional diperkirakan dapat ditekan hingga US$3.800 untuk setiap kunjungan kapal.

BP Batam selanjutnya akan menerapkan sistem Direct Billing, yakni pembayaran layanan terminal secara langsung kepada pengelola tanpa melalui pihak ketiga. Sistem tersebut ditargetkan memangkas birokrasi administrasi, meningkatkan transparansi pembayaran, sekaligus menurunkan dwelling time.

Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, mengatakan capaian tersebut menjadi sinyal bahwa pengembangan Batu Ampar mulai memberikan hasil.

“Ke depan kami akan terus memperbesar kapasitas terminal agar mampu mengakomodasi pertumbuhan arus barang global dan memperkuat posisi Batam sebagai hub logistik regional,” ujarnya.

Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, menambahkan modernisasi belum berhenti pada peningkatan alat bongkar muat. Pengelola juga menyiapkan perluasan terminal, pengerukan kolam pelabuhan agar mampu melayani kapal dengan draf lebih dalam, serta integrasi penuh sistem digital kepelabuhanan.

“BP Batam bersama BTP dan BACT akan melanjutkan berbagai program strategis untuk mendukung pertumbuhan investasi dan perekonomian nasional,” kata Basori. (*)

ReporterM. Sya'ban

UPDATE

Play sound