
batampos – Export Center Batam (ECB), Kepulauan Riau, terus memperkuat daya saing pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar internasional. Pendampingan dilakukan mulai dari pemenuhan legalitas usaha, sertifikasi produk, hingga pengurusan dokumen ekspor sesuai standar negara tujuan.
Kepala Pengelola Export Center Batam, Mikhael Ardianto, mengatakan ECB yang diresmikan Kementerian Perdagangan pada Agustus 2025 dan beroperasi di Mal Pelayanan Publik (MPP) Batam berfungsi sebagai pusat layanan ekspor terpadu bagi pelaku usaha.
“Pembinaan dilakukan secara langsung, baik daring maupun luring. Kami membimbing pelaku usaha mengenai dokumen yang harus dipenuhi dan juga membantu menghubungkan mereka dengan instansi terkait dalam proses pengurusan persyaratan ekspor,” kata Mikhael, Selasa (21/7).
Dampingi Sekitar 90 UMKM
Saat ini, Export Center Batam membina sekitar 90 UMKM yang dipersiapkan untuk memasuki pasar ekspor.
Dalam proses pendampingan, ECB memastikan setiap pelaku usaha telah memenuhi persyaratan dasar, seperti memiliki:
- Nomor Induk Berusaha (NIB)
- Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
- Sertifikasi produk sesuai kebutuhan pasar
Khusus produk makanan dan minuman, UMKM juga diarahkan melengkapi berbagai sertifikasi yang menjadi syarat di pasar internasional.
“Selain legalitas usaha, untuk produk kuliner kami juga melihat kelengkapan seperti sertifikasi halal, Standar Nasional Indonesia (SNI), Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT), izin edar BPOM, hingga sertifikasi lain yang dipersyaratkan negara tujuan ekspor,” ujarnya.
Standar Negara Tujuan Jadi Tantangan
Menurut Mikhael, tantangan terbesar UMKM bukan hanya menemukan pembeli di luar negeri, tetapi memenuhi standar kualitas dan persyaratan administrasi yang ditetapkan negara tujuan.
“Kesiapan pelaku usaha terhadap standar negara tujuan menjadi tantangan utama. Selain itu, proses pengurusan dokumen dan sertifikasi pendukung produk maupun ekspor juga tidak bisa dilakukan secara instan,” katanya.
Selain membantu proses legalitas, ECB juga mendampingi pelaku usaha mengikuti kegiatan business matching dengan calon pembeli dari luar negeri untuk memperbesar peluang terjadinya transaksi ekspor.
Tetap Dampingi UMKM yang Sudah Ekspor
Pendampingan tidak berhenti setelah UMKM berhasil menembus pasar internasional. Export Center Batam tetap melakukan pemantauan melalui pencatatan nilai ekspor dan komunikasi rutin sebagai bahan evaluasi serta pengembangan usaha.
Salah satu UMKM binaan yang telah lama menembus pasar ekspor adalah CV Kyria Rezeki, produsen aneka kerupuk berbahan hasil laut, seperti kerupuk siput gonggong, kerupuk cumi-cumi, kerupuk udang, kerupuk ikan tenggiri, hingga kerupuk otak-otak.
Perusahaan tersebut telah mengekspor produknya ke Singapura sejak 2002, jauh sebelum Export Center Batam berdiri.
“Meski sudah lama melakukan ekspor, kami tetap memberikan pendampingan administrasi, termasuk pencatatan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) sebagai bagian dari pemantauan nilai transaksi ekspor UMKM binaan,” jelas Mikhael.
Selain CV Kyria Rezeki, sejumlah UMKM lain yang juga memperoleh pendampingan ekspor antara lain Narata dan Sachikun.
Melalui pendampingan berkelanjutan, Export Center Batam berharap semakin banyak UMKM di Batam dan Kepulauan Riau yang mampu memenuhi standar internasional sehingga dapat melakukan ekspor secara mandiri dan berkelanjutan. (*)

