batampos– Minyak goreng kemasan terkenal di pasaran Batam tampaknya semakin langka. Hal ini menjadi kekhawatiran masyarakat karena tak lagi menemukan minyak goreng tersebut di swalayan bahkan retail modern.
Ketua Asosiasi Distributor Bahan Pokok Kota Batam, Aryanto tak menapik adanya kelangkaan minyak goreng kemasan terkenal di Batam. Kondisi itu ternyata menjadi kekhawatiran pihaknya.
BACA JUGA: Stok Minyak Goreng di Retail Modern mulai Habis
“Memang langka, karena memang barang untuk sementara (minyak goreng, red) tak bisa masuk Batam,” ujar Aryanto, Jumat (11/2).

Dikatakannya, yang menjadi kendala masuknya minyak goreng kemasan adalah perubahan aturan dari Kementerian Keuangan. Dimana sebelumnya, aturan masuk barang ke Batam merujuk ke Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 62. Namun terhitung 2 Februari, aturan tersebut diganti dengan PMK no 173 tahun 2021.
Ketentuan PMK no 137 yakni tentang tata cara pembayaran, pelunasan, dan pengadministrasian PPN atau PPN dan PPnBM atas penyerahan barang kena pajak (BKP)/jasa kena pajak (JKP) dari dan/atau ke KPBPB.
“Karena ada aturan baru, yakni PMK 137, barang jadi susah masuk Batam. Sebelumnya PMK 62, aman-aman saja, namun 2 Februari aturan berubah,” tegas Aryanto.
Adanya aturan baru itu membuat distributor harus kembali menyesuaikan proses penginputan. Sebab, proses dan cara masuk barang cukup berbeda dengan aturan lama.
“Harus melewati step-stepnya dan ini yang masih menjadi kendala, karena sistemnya juga baru. Jadi untuk sementara barang belum bisa masuk Batam,” ungkap Aryanto.
Menurut dia, aturan baru yakni PMK 173 juga membuat sejumlah distributor mengeluh. Karena mereka tak bisa menyalurkan barang dengan normal masuk Batam. Hal itu tentunya berpengaruh terhadap pendapatan distributor.
“Pastinya ada dampak, hal ini sudah kami laporkan ke Disperindag Kota Batam,” tegasnya.
Masih kata Aryanto, Disperindag Kota Batam juga berjanji mencarikan solusi terkait keluhan distributor. Yakni dengan berkoordinasi dengan Bea Cukai dan Dirjen Pajak. “Senin mau rapat, mudah-mudahan ada solusi terbaik, sehingga proses masuk barang ke Batam bisa normal lagi,” harapnya. (*)
Reporter: Yashinta

