
batampos – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Batam dipastikan akan mengalami penyesuaian, menyusul terbitnya Surat Edaran (SE) Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nomor 8 Tahun 2026.
Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batam, Defri Frenaldi, menegaskan bahwa pihaknya siap mengikuti seluruh ketentuan dalam edaran tersebut, terutama terkait pola distribusi dan penyajian makanan bagi peserta didik.
“Intinya kita menyesuaikan dengan edaran tersebut. Baik dari jadwal pendistribusian, teknis di lapangan, sampai kualitas makanan yang diberikan ke penerima manfaat,” ujar Defri, Senin (20/4).
Ia menjelaskan, salah satu poin penting dalam SE tersebut adalah penyesuaian jadwal distribusi makanan yang kini difokuskan pada hari efektif sekolah, yakni Senin hingga Jumat. Kebijakan ini diambil untuk memastikan makanan dikonsumsi dalam kondisi terbaik serta mendukung aktivitas belajar siswa.
Selain itu, MBG yang diberikan juga diwajibkan dalam bentuk makanan segar (fresh food) yang dimasak langsung oleh SPPG, bukan makanan olahan. Hal ini bertujuan menjaga kualitas gizi serta keamanan pangan bagi para penerima.
“Penekanan utamanya adalah makanan harus segar, bergizi, dan dikonsumsi tepat waktu. Ini penting agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh siswa,” jelasnya.
Tak hanya untuk peserta didik, penyesuaian juga berlaku bagi kelompok penerima manfaat lain seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B). Untuk kelompok ini, distribusi bisa dilakukan setiap hari atau melalui mekanisme khusus seperti pengantaran, tergantung kondisi wilayah dan kebutuhan.
Defri juga menyoroti pentingnya fleksibilitas dalam pelaksanaan program, terutama di wilayah tertentu atau dalam kondisi khusus seperti bulan Ramadan. Dalam situasi tersebut, jadwal distribusi dapat disesuaikan agar makanan tetap bisa dikonsumsi pada waktu yang tepat.
“Kalau ada kondisi khusus, termasuk saat puasa, kita sesuaikan. Tujuannya supaya makanan tidak terbuang dan tetap memberikan manfaat maksimal,” tambahnya.
Selain itu, SPPG Batam juga akan memperkuat koordinasi dengan pihak sekolah, kader posyandu, serta pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan pendataan penerima manfaat lebih akurat dan distribusi berjalan lancar.
Ia menegaskan, langkah penyesuaian ini bukan sekadar mengikuti aturan, tetapi juga menjadi upaya meningkatkan kualitas layanan program MBG secara menyeluruh di Batam.
“Kita ingin program ini benar-benar berdampak. Bukan hanya sekadar membagikan makanan, tapi memastikan gizi anak-anak dan kelompok rentan terpenuhi dengan baik,” tutupnya.(*)
Reporter : Rengga Yuliandra
BATAM (BP) – Ancaman kanker leher rahim (serviks) masih menghantui perempuan Indonesia. Namun di balik ancaman tersebut, sebenarnya ada satu langkah sederhana yang bisa menyelamatkan banyak nyawa: pencegahan sejak dini melalui vaksin HPV.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr Didi Kusmarjadi, menegaskan bahwa kanker serviks bukan penyakit yang datang tiba-tiba, melainkan akibat infeksi yang berlangsung lama dan sering luput dari perhatian.
“Yang berbahaya dari kanker serviks bukan hanya penyakitnya, tapi keterlambatan kita menyadarinya. Banyak kasus ditemukan saat sudah stadium lanjut,” ujar dr Didi, Senin (20/4).
Ia menjelaskan, penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV), virus yang sangat umum dan dapat menginfeksi tanpa gejala.
“Tidak ada rasa sakit, tidak ada tanda awal. Tiba-tiba saat diperiksa, sudah parah. Ini yang harus kita ubah pola pikirnya,” katanya.
Menurut dr Didi, masih banyak perempuan yang menunda pencegahan karena berbagai alasan, mulai dari merasa belum menikah, merasa sehat, hingga berpikir vaksin tidak mendesak.
Padahal, kata dia, justru di situlah letak kesalahannya.“Vaksin HPV paling efektif diberikan sebelum terpapar virus. Tapi bukan berarti yang sudah menikah tidak perlu, tetap bermanfaat,” tegasnya.
Ia menambahkan, pencegahan jauh lebih mudah dan murah dibandingkan pengobatan kanker yang membutuhkan biaya besar serta berdampak pada kualitas hidup pasien.
Saat ini Indonesia kini telah memiliki vaksin HPV produksi dalam negeri yang lebih mudah diakses masyarakat. Vaksin ini mampu melindungi dari tipe HPV 16 dan 18 yang menjadi penyebab utama kanker serviks, serta tipe 6 dan 11 penyebab kutil kelamin.
“Ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan cakupan imunisasi. Teknologinya aman dan efektivitasnya tinggi dalam mencegah lesi prakanker,” jelasnya.
Upaya ini juga sejalan dengan inisiatif Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) melalui program SPRIN (Selamatkan Perempuan Indonesia), yang mendorong perlindungan kesehatan perempuan dari usia muda hingga menopause.
Dr Didi menekankan bahwa pencegahan kanker serviks bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan keluarga.
“Ini tentang ibu yang tetap mendampingi anaknya, tentang perempuan yang tetap sehat untuk keluarganya,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan kuat kepada seluruh perempuan di Batam agar tidak menunda langkah pencegahan.
“Jangan tunggu gejala. Jangan tunggu sakit. Karena saat gejala muncul, sering kali sudah terlambat,” katanya.
dr. Didi menegaskan, vaksin HPV bukan sekadar imunisasi, tetapi bentuk perlindungan nyata dan investasi kehidupan.
“Kita punya pilihan hari ini: mencegah atau menyesal kemudian. Dan keputusan itu ada di tangan kita sendiri,” tutupnya.(*)

