
batampos – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Pattimura ke-209 di Batam tak sekadar menjadi ajang mengenang perjuangan pahlawan nasional asal Maluku itu. Lebih dari itu, kegiatan yang digelar Maluku Islam Kristen Satu Gandong (Masaga) Batam di Golden Prawn, Bengkong, Jumat (29/5), menjadi momentum mempererat tali persaudaraan dan memperkuat kebersamaan masyarakat Maluku yang hidup berdampingan di tanah rantau.
Suasana hangat terasa sejak awal acara. Pelukan akrab, sapaan penuh kekeluargaan, hingga canda yang mengundang tawa menjadi gambaran nyata kuatnya ikatan orang basudara yang tetap terjaga meski terpisah oleh jarak dari kampung halaman.
Mengusung tema “Teladani Perjuangan Pattimura, Mewujudkan Tali Silaturahmi Orang Basudara di Tanah Rantau”, kegiatan tersebut menjadi wadah mempererat hubungan kekeluargaan masyarakat Maluku sekaligus memperkuat nilai persatuan dalam keberagaman.
Ketua Panitia, Deni Talatua, mengatakan peringatan HUT Pattimura tahun ini sengaja dirancang tidak hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai ruang memperkokoh rasa persaudaraan dan kebersamaan yang selama ini menjadi identitas masyarakat Maluku.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin terus mempererat rasa persaudaraan dan memperkuat ikatan orang basudara, baik yang beragama Islam maupun Kristen, sebagaimana nilai yang diwariskan leluhur kita dalam semangat satu gandong,” ujarnya.
Deni juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh saudara-saudara yang telah hadir dan memberikan dukungan sehingga acara ini dapat terlaksana dengan baik dan penuh kekeluargaan,” katanya.
Menurut Deni, semangat persaudaraan yang dibangun Masaga Batam tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan peringatan hari besar. Organisasi tersebut juga aktif melaksanakan berbagai kegiatan sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Dalam kesempatan itu, peserta juga diajak meneladani perjuangan Kapitan Pattimura yang tidak hanya dikenal sebagai pejuang pemberani, tetapi juga simbol persatuan rakyat Maluku.
“Perjuangan Pattimura mengajarkan kepada kita bahwa persatuan adalah kekuatan terbesar. Selama orang basudara tetap bergandengan tangan, tidak ada perbedaan yang mampu memecah belah kita. Semangat itu harus terus hidup dari generasi ke generasi,” tegas Deni.
Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini memang berbeda dengan masa perjuangan Pattimura. Namun, semangat yang diwariskan sang pahlawan tetap relevan untuk dijadikan pegangan.
“Kalau Pattimura dahulu mengangkat parang melawan penjajahan, maka kita hari ini harus mengangkat semangat persatuan untuk melawan perpecahan. Jangan pernah lelah menjaga persaudaraan, karena itulah warisan terbesar yang ditinggalkan para leluhur kepada kita,” ujarnya yang disambut tepuk tangan peserta.
Pesan perjuangan Pattimura, lanjut Deni, adalah menjaga persatuan bangsa, memperkuat rasa persaudaraan, dan hidup berdampingan dalam keberagaman.
“Mari kita jaga persaudaraan kita, kita jaga bangsa ini, dan tetap bersatu sebagai orang basudara,” katanya.
Penasehat Masaga Batam, Robi Hamisi, mengajak seluruh masyarakat Maluku di perantauan untuk terus menjaga nilai persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan demi memperkuat persatuan bangsa.
“Perkuat persaudaraan sejati. Jangan biarkan perbedaan meretakkan hubungan antarorang basudara, karena Pattimura mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan terbesar Maluku adalah persatuan dan kebersamaan,” katanya.
Sementara itu, Pendiri sekaligus Pembina Masaga Batam, Leonard Wattimena, mengatakan sosok Kapitan Pattimura merupakan lambang keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air yang tidak lekang oleh waktu.
Menurut Leo, Pattimura memimpin perlawanan terhadap Belanda pada 18 Mei 1817 bukan karena ingin dikenang sebagai pahlawan, melainkan karena tidak rela melihat rakyatnya hidup dalam penindasan.
“Mari kita rawat sejarah dan jaga jati diri. Jangan sampai anak cucu kita tumbuh tanpa mengenal siapa Pattimura dan semangat perjuangannya,” ujarnya.
Leo juga mengajak seluruh warga Maluku di Batam untuk memperkuat solidaritas dan mengambil peran aktif dalam pembangunan daerah. Menurutnya, masyarakat perantau memiliki tanggung jawab untuk menjaga Batam tetap aman, harmonis, dan kondusif.
“Mari kita dukung program pemerintah untuk menjadikan Batam sebagai kota industri dan pariwisata yang semakin maju. Menjaga lingkungan tetap tertib, tidak mudah terprovokasi oleh isu yang memecah belah, serta mempererat persaudaraan antarwarga perantau maupun dengan masyarakat lokal,” katanya.
Leo menjelaskan bahwa falsafah Maluku ‘Potong di Kuku, Rasa di Daging’ mengandung makna persaudaraan yang sangat mendalam.
“Maknanya, ketika satu orang merasakan kesusahan, maka yang lain ikut merasakannya. Ketika satu orang terluka, yang lain juga ikut merasakan sakitnya. Itulah nilai orang basudara yang harus terus kita jaga di mana pun kita berada,” jelasnya.
Ia berharap semangat tersebut terus menjadi fondasi kehidupan masyarakat Maluku di tanah rantau.
“Mari kita saling membantu, bergotong royong, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Dengan kekompakan dan sinergi, kita yakin Batam akan tumbuh menjadi kota yang lebih maju, nyaman, dan sejahtera bagi semua. Batam maju, masyarakatnya rukun,” pungkas Leo. (*)



