Sabtu, 18 Juli 2026

Proyek Rempang Eco-City Belum Bergerak Masif

Berita Terkait

Permukiman relokasi Rempang Eco-City di Kampung Tanjung Banun, Pulau Rempang, Batam, Selasa (12/8/2025). Hingga kini, proyek strategis nasional Rempang Eco-City dinilai belum menunjukkan progres yang signifikan. Foto: Teguh Prihatna/ANTARA

batampos – Hampir tiga tahun setelah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), pembangunan Rempang Eco-City belum menunjukkan pergerakan fisik kawasan secara masif. Badan Pengusahaan (BP) Batam mengakui investasi yang digadang-gadang mencapai Rp210 triliun tersebut masih berada pada tahap persiapan, mulai dari penyiapan lahan, penyelesaian perizinan, hingga pematangan rencana investasi.

Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djamy Francis, mengatakan, pengembangan Rempang Eco-City hingga pertengahan 2026 memang telah bergeser dari tahap perencanaan menuju awal pelaksanaan. Namun, pembangunan fisik kawasan dalam skala besar belum dimulai.

”Sampai pertengahan 2026, pengembangan Rempang Eco-City sudah bergerak dari tahap perencanaan menuju tahap awal eksekusi, tetapi belum dapat dikatakan memasuki pembangunan fisik kawasan secara masif,” kata Fary kepada Batam Pos, Jumat (17/7).

Menurut Fary, saat ini BP Batam masih memprioritaskan penyiapan sekitar 1.000 hektare lahan tahap pertama. Selain itu, pemerintah juga menyelesaikan aspek legal, perizinan, kesiapan lahan, serta pembangunan infrastruktur dasar sebagai syarat masuknya investor.

Ia mengakui nilai investasi yang selama ini disampaikan pemerintah belum seluruhnya terealisasi dalam bentuk pembangunan fisik.

Baca Juga: ASN Batam Boleh Telat Demi Antar Anak Sekolah, Pekerja Swasta Bergantung Kebijakan Perusahaan ‎

Investasi pada sektor energi terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Battery Energy Storage System (BESS), hingga pengembangan kawasan industri hijau masih dalam tahap percepatan.

”Nilai investasi Rp180 triliun hingga Rp210 triliun yang direncanakan masih merupakan potensi dan belum seluruhnya terealisasi secara fisik di lapangan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan proyek yang sejak awal diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru Batam masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari kepastian investasi, penyelesaian persoalan lahan, hingga kesiapan pembangunan kawasan.

BP Batam juga menyebut target pembangunan Rempang Eco-City terus disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Jadwal pelaksanaan tidak hanya bergantung pada rencana awal, tetapi juga menunggu kesiapan lahan, kepastian investor, proses perizinan, serta pendekatan kepada masyarakat terdampak.

”Prinsip kami jelas. Rempang tetap didorong menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, tetapi pelaksanaannya harus terukur, memberikan kepastian kepada investor, sekaligus memastikan masyarakat lokal menjadi bagian dan penerima manfaat dari pembangunan,” kata Fary.

BACA BERITA LENGKAPNYA di harian.batampos.co.id

UPDATE

Play sound