
batampos – PT Batamraya Sukses Perkasa (PT BSP), pengembang utama proyek Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Sauh kembali melaksanakan program Corporate Social Responsibility (CSR) melalui aksi penanaman mangrove tahap kedua di kawasan pesisir Tanjung Sauh, Kelurahan Ngenang, Kecamatan Nongsa, Batam, Kamis (21/5).
Sebanyak 1.000 bibit mangrove jenis Mangi Kurata ditanam secara serentak sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan KEK Tanjung Sauh.
Program tersebut merupakan kelanjutan dari target penanaman total 5.000 bibit mangrove yang dilakukan secara bertahap.
Corporate Legal Panbil Group, Martina mengatakan, pemilihan mangrove jenis Mangi Kurata disesuaikan dengan kondisi tanah dan daya tahan terhadap ekosistem pesisir di kawasan tersebut.
“Mangrove yang kami pilih disesuaikan dengan kultur tanah dan ketahanan untuk ekosistem sekitar. Penanaman hari ini tidak akan berhenti pada hari ini saja. Mungkin ada kedua, ketiga, keempat, kelima yang akan kami sesuaikan dengan kebutuhannya,” ujar Martina.
Ia menegaskan, kepedulian terhadap kelestarian lingkungan menjadi perhatian utama dalam setiap proses pembangunan strategis KEK Tanjung Sauh.
Selain menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, penanaman mangrove juga diharapkan mampu menjadi benteng alami untuk mencegah abrasi pantai, meredam dampak perubahan iklim, serta memulihkan habitat biota laut di sekitar Pulau Ngenang dan Tanjung Sauh.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Kelurahan Ngenang, jajaran Bhabinkamtibmas Ngenang, Babinsa Ngenang, Babin Potmar Ngenang, hingga Komandan Pos Ngenang.
Selain itu, perangkat masyarakat seperti Ketua RW 01 dan RW 02 Kelurahan Ngenang beserta jajaran RT, Ketua dan Wakil Ketua Karang Taruna Kelurahan Ngenang, tokoh masyarakat, serta perwakilan Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) juga ikut terlibat dalam aksi penanaman tersebut.
PT BSP berharap penanaman mangrove secara berkala dapat memperkuat ketahanan wilayah pesisir dari hempasan gelombang laut sekaligus meningkatkan populasi biota laut seperti ikan, udang, dan kepiting yang menjadi sumber ekonomi masyarakat nelayan setempat.
Selain itu, keberadaan mangrove juga dinilai mampu membantu menciptakan kualitas udara lebih baik melalui penyerapan karbon di kawasan pesisir.
Melalui program tersebut, KEK Tanjung Sauh menegaskan komitmennya untuk terus menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan atau sustainable development dan menjadi contoh pengembangan kawasan ekonomi yang modern serta berwawasan lingkungan di Indonesia. (*)



