Sabtu, 18 Juli 2026

Transaksi QRIS di Kepri Melonjak 144 Persen, Nilainya Tembus Rp3,86 Triliun pada Triwulan I 2026

Berita Terkait

Ilustrasi penggunaan Qris.

batampos – Transformasi sistem pembayaran digital di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus menunjukkan perkembangan pesat. Seiring pertumbuhan ekonomi yang menjadi tertinggi di Pulau Sumatera, penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) juga melonjak signifikan pada awal 2026.

Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi QRIS di Kepri pada Triwulan I 2026 tumbuh 144,08 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, nilai transaksi mencapai Rp3,86 triliun, menandakan semakin kuatnya pergeseran masyarakat dan pelaku usaha menuju transaksi non-tunai.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan percepatan digitalisasi sistem pembayaran di daerah.

“Pesatnya pertumbuhan transaksi QRIS menunjukkan transformasi digital di Kepri berjalan semakin baik,” kata Rony, Sabtu (18/7/2026).

Menurutnya, peningkatan transaksi digital didorong oleh semakin luasnya jaringan akseptasi QRIS di berbagai sektor usaha, serta perubahan perilaku masyarakat yang kini lebih memilih metode pembayaran digital karena dinilai lebih praktis, cepat, dan aman.

Ekonomi Kepri Tetap Tumbuh Tertinggi di Sumatera

Selain mencatat lonjakan transaksi digital, Bank Indonesia juga melaporkan posisi net outflow uang kartal di Kepri pada Triwulan I 2026 sebesar Rp989 miliar.

Di sisi lain, perekonomian Kepri tetap menunjukkan kinerja yang kuat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kepri pada Triwulan I 2026 tumbuh 7,04 persen (yoy).

Meski sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 7,89 persen pada Triwulan IV 2025, angka tersebut masih berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,61 persen, sekaligus menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatera.

Sektor Perbankan Tetap Solid

Kinerja sektor keuangan di Kepri juga dinilai masih terjaga dengan baik.

Pada Triwulan I 2026, aset perbankan tumbuh 5,31 persen, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,26 persen, sedangkan penyaluran kredit naik 6,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bank Indonesia mengakui pertumbuhan aset, simpanan, dan kredit mulai mengalami perlambatan. Namun, kondisi tersebut masih berada dalam batas yang sehat dan tidak mengganggu fungsi intermediasi perbankan.

“Kinerja intermediasi perbankan di Kepri pada Triwulan I 2026 secara umum tetap terjaga dan menunjukkan perbaikan kualitas di tengah pertumbuhan kredit yang mengalami deselerasi,” ujar Rony.

BI Optimistis Ekonomi Kepri Tetap Positif

Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Kepri akan tetap tumbuh positif hingga akhir 2026, meski dipengaruhi faktor base effect akibat tingginya pertumbuhan pada tahun sebelumnya.

Di sisi lain, inflasi diproyeksikan tetap terkendali dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen.

Menurut BI, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang masih berada di atas rata-rata nasional, stabilitas sektor keuangan yang tetap terjaga, serta percepatan digitalisasi sistem pembayaran menjadi modal kuat bagi Kepri untuk mempertahankan momentum pertumbuhan.

“Didukung pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi, stabilitas sistem keuangan yang terjaga, dan inflasi yang terkendali, kami optimistis perekonomian Kepri akan tetap tumbuh positif sepanjang 2026,” tutup Rony. (*)

UPDATE

Play sound