Selasa, 23 Juni 2026

Era Digital Perburuk Kesehatan Mental Anak

Berita Terkait

Ilustrasi remaja yang mengalami depresi. (F.ChatGPT)

batampos – Meninggalnya seorang pelajar SMP di Kampung Tengah, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kamis (11/6), menjadi perhatian berbagai pihak. Peristiwa yang menimpa SH, siswa kelas IX salah satu SMP negeri di Nongsa, dinilai sebagai alarm bagi dunia pendidikan dan seluruh elemen masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan mental anak.

Pemerhati Anak Batam, Erry Syahrial, mengatakan fenomena bunuh diri pada anak dan remaja menunjukkan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan. Selain jumlah kasus yang meningkat, usia anak yang terlibat dalam kasus serupa juga semakin muda.

“Fenomena anak bunuh diri semakin meningkat, bahkan usianya semakin kecil. Ini menunjukkan ada persoalan serius yang harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya, Jumat (12/6).

Baca Juga: Disdik Batam Sebut Semua Lulusan TK Berpeluang Tertampung di SD Negeri

Menurutnya, anak-anak saat ini menghadapi berbagai tekanan yang berasal dari lingkungan sekitar, baik di rumah, sekolah maupun pergaulan sosial. Tekanan tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologis anak hingga membuat mereka merasa tidak memiliki jalan keluar ketika menghadapi masalah.

“Saya melihat fenomena ini menunjukkan ada masalah dalam dunia anak. Tekanan terhadap anak semakin tinggi dari berbagai pihak di luar dirinya. Tekanan itu membuat anak lebih mudah putus asa ketika menghadapi persoalan,” katanya.

Erry menilai perkembangan teknologi dan penggunaan gawai yang semakin intensif juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan mental anak. Di era digital, anak-anak lebih rentan mengalami gangguan psikologis akibat paparan informasi, tekanan media sosial, maupun berkurangnya interaksi sosial secara langsung.

“Di era digital, kesehatan mental anak mudah terganggu karena mereka banyak menghabiskan waktu dengan gadget. Selain itu, faktor lingkungan dan kondisi pribadi anak juga ikut memengaruhi,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, sejumlah penelitian yang dilakukan Dinas Kesehatan menunjukkan masih banyak anak yang mengalami gangguan kesehatan mental dengan tingkat yang beragam. Karena itu, diperlukan langkah pencegahan yang melibatkan keluarga, sekolah, dan pemerintah.

Baca Juga: Tiga Pelaku Jambret iPhone Mahasiswi Dibekuk Polisi

Menurut Erry, pendidikan yang mampu memperkuat karakter anak, pemberian motivasi, serta layanan konseling yang mudah diakses menjadi salah satu upaya penting untuk mencegah munculnya tindakan yang tidak diinginkan.

“Anak harus mendapatkan ruang untuk bercerita dan mencari solusi ketika menghadapi masalah. Pendidikan yang menguatkan mental, motivasi, dan layanan konseling harus diperbanyak agar mereka memiliki jalan keluar,” katanya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pola asuh keluarga yang sehat dan sistem pendidikan yang lebih peduli terhadap kondisi psikologis siswa. Sekolah, kata dia, perlu memperkuat layanan bimbingan dan konseling agar dapat mendeteksi lebih dini masalah yang dihadapi peserta didik.

“Pola asuh orang tua dan pola pendidikan sangat berpengaruh. Di sekolah, guru bimbingan konseling perlu diperbanyak sehingga pendampingan terhadap siswa bisa lebih optimal,” ujarnya.

Erry berharap peristiwa yang terjadi di Nongsa menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih peka terhadap kondisi mental anak dan remaja, sehingga kasus serupa dapat dicegah di masa mendatang. (*)

UPDATE