
batampos – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam memperketat pengawasan harga dan ketersediaan bahan pokok sebagai langkah mengendalikan inflasi yang pada Juni 2026 mencapai 4,75 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Disperindag Batam, Suhar, melalui Kepala Bidang Perdagangan Wahyu Daryatin mengatakan pihaknya secara rutin memantau stok bahan pokok di tingkat distributor sekaligus mengawasi perkembangan harga di pasar.
“Kami berkoordinasi dengan distributor terkait ketersediaan stok. Selain itu, tiga kali dalam seminggu kami melakukan pemantauan harga dan dua kali seminggu melakukan pengawasan terhadap stok,” kata Wahyu di Batam, Senin.
Hasil pemantauan menunjukkan stok berbagai komoditas utama, seperti beras, minyak goreng, gula pasir, dan kebutuhan pokok lainnya masih dalam kondisi aman hingga akhir tahun.
Meski demikian, beberapa komoditas masih mengalami kenaikan harga, terutama cabai, yang menjadi salah satu penyumbang inflasi di Kota Batam.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Kota Batam pada Juni 2026 tercatat sebesar 4,75 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 113,91.
Kenaikan inflasi dipengaruhi oleh sejumlah kelompok pengeluaran, antara lain kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 6,60 persen, transportasi 7,60 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran 5,84 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 11,35 persen.
Menurut Wahyu, fokus utama Disperindag adalah menjaga ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok agar dampak inflasi terhadap masyarakat dapat diminimalkan.
“Kalau kami tidak bisa menurunkan harga di pasar, setidaknya kami membantu masyarakat agar harga dan stok kebutuhan pokok tetap terjaga, dan juga melalui program pasar murah bersubsidi,” ujarnya.
Sebagai bentuk intervensi pemerintah daerah, Disperindag Batam melaksanakan program pasar murah bersubsidi sesuai arahan Wali Kota Batam dalam rapat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Sebanyak 25 ribu paket bahan pokok disiapkan untuk masyarakat. Setiap paket memiliki nilai sekitar Rp200 ribu, namun dapat ditebus dengan harga Rp100 ribu.
“Inflasi kita memang agak tinggi pada Juni ini. Oleh karena itu, melalui instruksi Wali Kota saat rapat TPID, kami melaksanakan pasar murah bersubsidi sebanyak 25 ribu paket untuk masyarakat,” kata Wahyu.
Setiap paket pasar murah berisi 10 kilogram beras premium, 1 kilogram gula pasir, dan 2 kilogram tepung terigu.
Program tersebut diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menjadi salah satu langkah pengendalian inflasi di Kota Batam.
“Sedikit banyak program ini bisa membantu masyarakat di tengah tingginya inflasi yang sekarang melanda Kota Batam,” tutupnya. (*)

