Sabtu, 23 Mei 2026

Debit Air Waduk di Batam Terus Menyusut, Waduk Nongsa Paling Kritis

spot_img

Berita Terkait

Waduk Nongsa mengalami penurunan permukaan air hingga sekitar 4 sentimeter per hari. Tanpa tambahan pasokan air, waduk ini diperkirakan hanya bertahan sekitar 34 hari. Foto: Cecep Mulyana

batampos – Cadangan air baku di sejumlah waduk utama Kota Batam mulai memasuki fase mengkhawatirkan seiring terus menurunnya tinggi muka air (TMA) setiap hari akibat minimnya curah hujan dan meningkatnya kebutuhan air bersih masyarakat maupun industri.

Berdasarkan laporan ketahanan air waduk BP Batam per 27 April 2026, hampir seluruh waduk mengalami penurunan signifikan, dengan kondisi paling kritis terjadi di Waduk Nongsa.

Waduk tersebut tercatat mengalami penurunan sekitar 4 sentimeter per hari, tertinggi dibandingkan waduk lainnya di Batam, atau sekitar 25 persen dari total laju penyusutan harian seluruh waduk utama.

Dalam simulasi tanpa hujan, Waduk Nongsa diperkirakan hanya memiliki ketahanan sekitar 34 hari apabila tidak ada tambahan pasokan air, baik dari hujan maupun intervensi teknologi seperti hujan buatan. Kondisi ini menjadikannya titik paling rawan terhadap ancaman krisis air baku.

Baca Juga: Sampah Menumpuk di Botania 1, Warga Keluhkan Bau Busuk dan Serbuan Lalat

Selain Nongsa, penurunan signifikan juga terjadi di Waduk Sei Harapan, Waduk Seiladi, dan Waduk Muka Kuning yang masing-masing mengalami penurunan sekitar 3 sentimeter per hari, dengan kontribusi sekitar 18,75 persen terhadap total laju penyusutan.

Waduk Seiharapan diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 62 hari tanpa hujan, sedangkan Waduk Muka Kuning sekitar 138 hari. Meski demikian, kondisi Muka Kuning tetap dikategorikan kritis karena mendekati batas dead storage atau cadangan minimum yang masih dapat dimanfaatkan.

Sementara itu, Waduk Tembesi mengalami penurunan sekitar 2 sentimeter per hari, sedangkan Waduk Duriangkang yang selama ini menjadi tulang punggung air bersih Batam tercatat paling stabil dengan penurunan sekitar 1 sentimeter per hari.

Meski paling stabil, BP Batam menegaskan Waduk Duriangkang tetap perlu diwaspadai karena menyuplai hampir 50 persen kebutuhan air bersih masyarakat dan industri di Batam.

Tekanan terhadap konsumsi air terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, investasi, dan ekspansi kawasan industri. Di sisi lain, pasokan air masuk (inflow) tidak lagi mampu mengimbangi tingginya produksi dan distribusi air baku harian.

Kondisi ini dipengaruhi dampak El Nino lemah yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026. Situasi diprediksi semakin berat pada periode Juli hingga September 2026 yang menjadi puncak musim kering tahun ini.

Data curah hujan Januari–Maret 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah tangkapan waduk mengalami hujan rendah. Bahkan beberapa waduk seperti Seiladi dan Nongsa mencatat curah hujan sangat minim sejak awal tahun.

Dalam simulasi BP Batam, hujan ringan dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap kenaikan TMA waduk. Kenaikan baru akan terasa apabila terjadi hujan dengan intensitas di atas 100 milimeter per hari.

Baca Juga: Buru 2 Pelaku Pembacokan di Sagulung, Polisi Cari Petunjuk dan Rekaman CCTv

Melihat kondisi tersebut, BP Batam mulai menggencarkan rencana pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan untuk menjaga ketahanan air baku sebelum memasuki puncak musim kemarau.

Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan operasi modifikasi cuaca perlu dilakukan sejak Mei karena kondisi awan masih memungkinkan untuk penyemaian.

“Berdasarkan data BMKG, Juni sampai Agustus diperkirakan musim kemarau panjang, sehingga harus diantisipasi agar volume waduk tetap terjaga,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan TMC harus dimulai pada Mei karena pada periode tersebut masih terdapat awan potensial untuk penyemaian garam agar hujan dapat dipercepat.

“Kalau sudah masuk musim kering, peluang keberhasilannya akan semakin kecil,” katanya.

Dalam perkembangan terbaru, BP Batam juga telah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak pertengahan Mei 2026 sebagai langkah antisipatif menghadapi penurunan cadangan air baku.

BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam mencatat, hujan yang mengguyur Batam dalam beberapa hari terakhir sebagian merupakan hasil rekayasa cuaca tersebut.
Kepala BMKG Hang Nadim Batam, Ramlan Djambak, mengatakan TMC dilakukan setelah terdeteksi penurunan debit air di sejumlah waduk.

“Karena ada tanda-tanda pengurangan debit air di beberapa waduk Batam, BP Batam berinisiatif membuat hujan buatan,” ujarnya.

Baca Juga: BP Batam Perbaiki Jalan Rusak di Underpass Pelita

Ia menjelaskan, metode TMC dilakukan dengan menyemai awan menggunakan natrium klorida (NaCl) agar proses kondensasi berjalan lebih cepat hingga turun sebagai hujan di wilayah tangkapan waduk.

Operasi tersebut direncanakan berlangsung sekitar 20 hari, meski sempat dihentikan sementara pada 20 Mei 2026 karena kendala distribusi bahan dari BP Batam.

Selain faktor teknis, pelaksanaan TMC juga harus memperhatikan lalu lintas penerbangan internasional yang padat. Setiap penerbangan penyemaian awan wajib mendapat izin Air Traffic Control (ATC) dan AirNav Indonesia agar tidak mengganggu jalur penerbangan komersial.

Di sisi lain, BMKG menilai periode akhir April hingga awal Mei merupakan waktu paling ideal untuk pelaksanaan OMC karena potensi awan hujan masih cukup tersedia di wilayah Kepulauan Riau.

Dengan kondisi yang terus menurun ini, Mei dinilai menjadi momentum krusial untuk mengoptimalkan pengisian waduk sebelum memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026. (*)

ReporterM. Sya'ban
spot_img

UPDATE

Play sound