batampso.co.id – Ketersediaan obat di seluruh puskesmas di Kota Batam diduga menipis atau bahkan kosong dalam beberapa bulan terakhir.
Sebab, dari hasil pembahasan realisasi APBD Kota Batam pada triwulan III-2021, terdapat permasalahan pengadaan obat.
Hal itu diungkapkan Anggota Komisi IV DPRD Kota Batam yang membidangi kesehatan, Mochamad Mustofa.
”Kenapa itu bisa terjadi, karena ada permasalahan dari pengadaan oleh rekanan dari
Dinkes (Dinas Kesehatan Batam), terutama dalam pengadaan obat untuk puskesmas,” ujar Mustofa, Jumat (5/11/2021).
Ia melanjutkan, menipisnya stok obat di seluruh puskesmas di Kota Batam akibat ketidakmampuan pihak ketiga memenuhi kewajibannya.
Sebab, hingga November, dari anggaran sebesar Rp 700 juta untuk obat-obatan di puskesmas, baru terealisasi 10 hingga 15 persen.
Artinya, dengan realisasi yang sangat kecil itu, ada kemungkinan di seluruh puskesmas mengalami kekosongan obat.
”Akhirnya, obat di puskesmas banyak yang kosong. contoh seperti parasetamol saja kosong, karena ada masalah di pengadaan,” tegasnya.
Seharusnya, kata Mustofa, jika pihak ketiga tidak bisa memenuhi pengadaan obat
di seluruh puskesmas, Dinas Kesehatan diberikan kewenangan mencari pihak lain untuk memenuhi kebutuhan obat di seluruh puskesmas.
Atau, jika harga obat-obatan yang tidak sesuai dengan anggaran, tentunya Dinas Kesehatan juga bisa mengajukan peningkatan dengan harga baru dan sebagainya.
”Jadi, tidak boleh sampai puskesmas itu kekosongan obat. Ini kesalahan yang menurut saya fatal sekali. Mungkin puskesmas ada beberapa yang menangani sendiri, atau sistemnya paling memberi resep dan beli obat di luar,” katanya.
Menyurutnya, kejadian ini harus ada perbaikan. Apalagi, tahun 2021 hanya menyisakan dua bulan lagi.
Sehingga, dengan realisasi yang kecil ini, Dinas Kesehatan dinilai gagal dalam pengadaan obat di puskesmas. Sebab, seharusnya, realisasinya sudah menyentuh angka 70 persen.
”Pihak ketiga ini tentunya tidak mungkin dikasih duit tidak mau, kan dia penjual obat dan ada yang order, kok tidak mau, berarti ada problem di situ. Entah ada harganya yang masalah atau bagaimana. Dinas tidak bisa menyelesaikan permasalahan itu dan obat kosong di puskesmas,” imbuhnya.
Namun, informasi kekosongan stok obat dibantah pihak Dinkes Batam. Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan, dalam rangka upaya memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, dan juga untuk mencegah terjadinya kekosongan obat
serta jumlah persediaan obat berkurang, maka instalasi farmasi menyediakan obat
dengan skema buffer stock.
Buffer stock adalah persediaan obat-obatan dan perbekalan kesehatan di setiap gudang farmasi provinsi dan kabupaten/kota yang ditujukan untuk menunjang pelayanan kesehatan selama bencana.
”Obat kita kan pakai buffer stok,” ujar Didi menanggapi tudingan kekosongan obat
di seluruh puskesmas di Kota Batam, Jumat (5/11/2021).
Tujuan dari buffer stock obat ini adalah mencegah terjadinya kekosongan obat baik itu di puskesmas maupun lembaga lain yang ada di bawah Dinas Kesehatan Kota Batam.
Menurut Didi, untuk ketersediaan stok obat saat ini dinilai aman hingga beberapa bulan ke depan. Sehingga, masyarakat tidak perlu khawatir kekurangan obat atau tidak ada obat pada saat berobat di puskesmas.
”Aman, karena kita buffer stock tadi,” ucapnya.
Disinggung mengenai adanya info dari Banggar DPRD Batam terkait kekosongan obat di puskesmas, Didi menjawab belum mengecek.
”Kalau itu kami belum cek,” jawabnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Belakangpadang, Sri Fetra Neti, mengatakan, untuk stok obat-obatan cukup. Hanya saja, ada beberapa obat yang kurang.
”Insya allah aman. Sebab, jika ada obat yang kosong, masih bisa kami gantikan dengan obat lain yang manfaatnya sama,” ujar Sri.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Batuaji, Arlan, mengatakan, sejauh ini tak ada kendala dengan layanan medis di fasilitas kesehatan tersebut.
Arlan juga menepis informasi terkait menipisnya stok obat-obatan di puskesmas. Dia memastikan, stok obat di Puskesmas Batuaji aman terkendali.
”Tak ada itu. Kemarin memang ada informasi itu, tapi di sini aman kok. Obat umum ataupun penyakit yang langka masih ada stok semua. Tak ada kendala,” ujarnya.
Reporter: Eggi Idriansyah, Rengga Yuliandra, Eusebius Sara

