
batampos – Tembok barak polisi yang selama ini identik dengan disiplin, kehormatan, dan pembinaan anggota, kini justru menyimpan cerita kelam. Kematian Bripda Natanael Simanungkalit (21) tidak lagi sekadar dugaan biasa. Hasil otopsi memastikan ada jejak kekerasan serius di balik meninggalnya anggota muda kepolisian itu.
Asep Safrudin mengakui hasil otopsi menunjukkan adanya tindakan kekerasan yang menjadi penyebab kematian korban.
“Hasil otopsi bahwa penyebab kematian memang ada tindakan kekerasan. Maka itu bisa dijadikan dasar oleh penyidik untuk mendalami kepada tersangka. Kenapa sampai terjadi tindakan tersebut,” kata dia, Rabu (15/4) siang saat ditemui Batam Pos di Wyndham Panbil.
Baca Juga: Bripda AS Resmi Tersangka Penganiayaan Berat yang Menewaskan Bripda Natanael Simanungkalit
Pernyataan itu mempertegas bahwa kasus yang sebelumnya hanya disebut sebagai dugaan kini telah bergerak ke tahap yang lebih serius. Kematian Natanael tidak lagi dipandang sebagai insiden biasa di lingkungan internal, melainkan telah masuk ke ranah pidana.
Saat ditanya apakah perkara tersebut sudah masuk unsur pidana? “Ya udah lah. Sudah naik sidik, kemudian sudah kita lakukan penanganannya di kriminal umum,” kata jenderal bintang dua itu.
Meski telah naik ke tahap penyidikan, polisi belum membuka siapa saja yang berpotensi menjadi tersangka tambahan.
Hingga kini, penyidik masih mendalami keterangan dari tiga orang saksi lain yang diduga mengetahui rangkaian peristiwa sebelum korban meninggal.
“Masih proses ini kita ada pendalaman terhadap tiga saksi lainnya. Saya belum dapat upgrade bisa terjadi tersangka atau saksi,” ujar Asep.
Dalam kasus ini, sempat muncul dugaan adanya korban lain selain Natanael. Namun, Kapolda sebut kondisi korban lainnya tidak berada dalam situasi serius.
“Itu biasa, gak ada ini, tidak ada masalah,” kata Asep. (*)



