Selasa, 5 Mei 2026

Nasi Besar dan Upaya Merawat Kuliner Peninggalan Tradisi

Berita Terkait

Menghidangkan nasi besar untuk berbagai hajatan dan kegiatan keagamaan, lumrah dilakukan orang Melayu zaman dahulu. Namun, lambat laun tradisi ini mulai ditinggalkan seiring laju peradaban.

Namun, tak ada salahnya mengangkat kembali kuliner berbahan dasar pulut atau ketan ini, sehingga menjadi penganan khas di setiap hajatan orang masa kini. Tujuannya, merawat agar warisan budaya ini tetap lestari hingga anak cucu nanti.

Batam – Ratna Irtatik

Sofia tersenyum semringah saat menerima setangkai bunga telur yang diambil dari gundukan hidangan nasi besar. Bocah 5 tahun itu mengamati bunga imitasi berwarna keunguan tersebut.

Sejurus kemudian, pandangannya beralih ke sisi di bawah bunga, tepatnya pada telur yang berkulit merah, berbungkus jaring-jaring halus yang juga berwana merah di tangkai bunga tersebut.

Tak perlu waktu lama, tangan Sofia langsung mengambil telur dan mengupas kulitnya, lalu memakan putih telur yang terlihat ada semburat kemerahan, persis seperti warna cangkangnya tadi.

Namun, ketika bocah yang gemar bermain games itu ditawari pulut berwarna kekuningan yang diambil dari gundukan nasi besar, ia cepat menggeleng.

Bahkan, sodoran tangan dari ibunya untuk menyuapkan ketan bertekstur lembut itu ke mulutnya, ditepisnya dengan keengganan membuka bibir.

“Enggak, Ma, makan telurnya saja,” jawabnya.

Nasi besar dihidangkan saat acara khataman Al-Qur’an oleh pegawai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam di Taman Dang Anom, Batam Center, Jumat (8/4/2022) lalu. Foto: Disbudpar untuk Batam Pos

Itu adalah momen ketika Sofia, bocah perempuan kelahiran Batam, dikenalkan pada nasi besar, salah satu kuliner tradisional dari Bumi Melayu di wilayah Kepulauan Riau (Kepri).

Bagi anak-anak masa kini, apalagi bagi para bocah seperti Sofia ini, tentu nasi besar jarang ditemui. Itu karena, kudapan tersebut memang hanya ada di beberapa acara besar yang biasanya berkaitan dengan budaya maupun hajatan spesial lainnya.

Kepala Biro Penelitian dan Penulisan Adat Istiadat Melayu dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam, Muhamad Zen, mengatakan, nasi besar bukan bermakna nasi yang berukuran besar.

Melainkan, sajian kuliner yang dihidangkan saat ada acara pada hari-hari besar maupun hajatan besar.

“Misalnya pada acara pernikahan, sunatan, Maulid Nabi Muhammad SAW, dan juga khataman Al-Qur’an,” sebut Zen.

Menurutnya, nasi besar juga dapat diberikan kepada orang-orang tertentu yang dihormati. Termasuk juga, sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas jasa atau bantuan yang diberikan orang tersebut kepada kita.

“Nasi besar ini juga dapat diberikan murid kepada guru mengajinya, atau diberikan anak yang bersunat kepada mantri sunat kalau zaman dahulu, lalu bisa juga diberikan pengantin kepada Mak Andam (perias pengantin),” tuturnya.

Menurut Zen, agar nasi besar tak hilang ditelan zaman, pihaknya berupaya dan berharap agar di setiap acara atau hajatan besar terntu, warga mau menyajikan nasi besar.

Sehingga, pamor nasi besar tetap melekat dalam benak masyarakat, termasuk dalam ingatan generasi masa kini.

“Sekarang memang kami kembangkan agar nasi besar bisa menjadi pengganti tumpeng kalau di wilayah Melayu ini,” ujar pria yang juga menjabat Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam itu.

Adapun, nasi besar memang terbuat dari pulut atau ketan yang diberi warna kuning dari bahan kunyit.

Cara membuatnya, kata Zen, beras ketan sehabis dicuci kemudian direndam dengan air kunyit, kemudian dikukus. Bagi sebagain orang, ada yang menambahkan santan untuk menambah cita rasa pada pulut tersebut.

“Sedangkan filosofi warna kuning ini melambangkan kemuliaan,” katanya.

Nasi besar itu kemudian dibentuk setengah lingkaran dan diletakkan di atas pahar atau dulang berkaki.

Setelah itu, di atasnya ditancapkan bunga puncak yang terbuat dari bunga imitasi. Lalu, di tangkainya diberi telur yang diberi warna merah.

“Kalau dari maknanya, bunga itu melambangkan kesuburan. Sedangkan telur yang diberi warna merah, itu menandakan gairah sekaligus sesuatu yang licin. Diharapkan, bahwa seseorang itu dapat hidup dengan penuh gairah sekaligus licin dalam menghadapi berbagai persoalan hidup,” terang Zen.

Menurut dia, tradisi menyuguhkan nasi besar memang sudah ada sejak zaman kerajaan dahulu. Namun, bagi keturunan raja atau kalangan bangsawan, nasi besar disebut dengan Astakona.

“Itu pakai dulang berkaki, tapi tingkatnya berjenjang dan ganjil sesuai derajat keturunannya,” imbuhnya.

Zen berharap, ke depan makin banyak masyarakat yang menyajikan nasi besar di berbagai acara yang diadakan.

Sehingga, kuliner ini tetap hidup di tengah perkembangan masyarakat yang serba instan dan kekinian.

“Kami ingin di berbagai momen tetap ada nasi besar ini, tapi bisa sedikit dimodifikasi. Misalnya saat acara ulang tahun anak, sehingga anak-anak juga tahu bahwa ada tradisi nasi besar ini yang tetap lestari,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Batam, Ardiwinata, mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk terus melestarikan berbagai warisan budaya dari wilayah ini, termasuk tradisi menghidangkan nasi besar.

“Karena dengan menghidupkan tradisi seperti nasi besar ini, maka sekaligus kita meneguhkan kembali eksistensi budaya kita sendiri. Maka, sudah semestinya nasi besar punya tempat spesial di Kota Batam ini,” tutupnya.(*)

UPDATE