batampos – Korban penipuan paket sembako murah fiktif dari Purnama Aji, oknum ketua RT di kecamatan Batuaji mencapai 1.393 Warga yang didominasi oleh kaum ibu-ibu.
Ini disampaikan oleh Kapolsek Batuaji Kompol Daniel Ganjar Kristanto saat gelar pers rilis di Mapolsek Batuaji, Rabu (16/3) siang. “Korban cukup banyak dari kaum ibu-ibu yang tergiur dengan tawaran paket sembako murah tadi. Ada sekitar 13.93 orang (korban),” ujar Daniel.

Total keuntungan yang diraup pelaku sekitar Rp 79 juta. Uang tersebut sudah habis terpakai oleh pelaku. “Jadi gini, awalnya dia buat kupon serupa tapi dengan jumlah yang terbatas. Dia keluarin modal untuk beli sembako dan dibagikan ke warga. Ini modus agar warga tergiur. Setelah sukses dengan aksinya yang pertama dan melihat banyak peminat, dia cetak lagi kupon serupa lebih dari seribuan kupon dan diedarkan ke Masyarakat. Setelah terima uang dia kabur,” ujar Daniel.
BACA JUGA: Purnama Aji, Tersangka Kasus Kupon Sembako Fiktif Dicopot dari Jabatannya Sebagai Ketua RT
Uang hasil penipuan paket sembako trip kedua ini sebagiannya untuk menutupi kekurangan pembayaran paket sembako di trip pertama sebelumnya. Sebagiannya lagi dipergunakan untuk keperluan sehari-hari bersama keluarga di tempat persembunyiannya di Banyuasin, Sumatera Selatan. “Ada selisi harga sekitar 20 dari paket sembako yang ditawarkannya. Sebagian uang dari hasil penjualan kupon trip kedua untuk menutupi tagihan sembako yang sudah berjalan di trip pertama. Karena trip kedua memang cukup banyak peminat dia tetap dapat untung sehingga kabur,” kata Daniel.
Aksi penipuan kupon Sembako fiktif ini murni dorongan niat pelaku yang melihat ada peluang di tengah terpaan wabah pandemi Covid-19 ini. Dia tidak melibatkan orang lain dengan pengadaan kupon Sembako fiktif tadi. Dia menggunakan stempel RT yang dipegangnya untuk meyakinkan para korban.
Kepada polisi, Purnama Aji mengaku menyesal dengan perbuatannya itu. Dia berniat mengembalikan uang para korban namun karena terlalu banyak desakan dari kaum ibu-ibu yang jadi korban diapun memilih kabur. “Saya mau jual rumah saya yang di Tanjunguncang mau balikin duit orang tapi terlalu banyak desakan makanya jadi pusing saya,” ujarnya. (*)
Reporter: Eusebius Sara

