Kamis, 23 April 2026

Fokus Layani Lansia dan Disabilitas, Kemenhaj Siapkan Skema Khusus Mulai di Asrama hingga di Tanah Suci

Berita Terkait

Walikota Batam Amaakar Achmad bersama Wakil Walikota Batam Li Claudia Chandra memberikan bingkisan kepada jamaah calon haji kota Batam di Asrama Hajai Batam, Selasa (21/4). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melalui Kanwil Kepulauan Riau memfokuskan pelayanan haji tahun ini pada jemaah lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas, yang jumlahnya mencapai sekitar 50 persen dari total jemaah.

Kepala Kanwil Kemenhaj Kepri, Muhammad Syafii, menegaskan berbagai skema khusus telah disiapkan sejak di asrama haji hingga pelaksanaan ibadah di Tanah Suci, guna memastikan kelompok rentan tersebut tetap dapat beribadah dengan aman dan nyaman.

“Perhatian utama kami tahun ini adalah lansia dan disabilitas. Mulai dari layanan kesehatan, fasilitas, hingga skema ibadah, semuanya kami sesuaikan dengan kondisi mereka,” ujarnya, Selasa (21/4).

Sejak kedatangan di asrama haji, jemaah lansia dan disabilitas akan langsung mendapatkan prioritas layanan. Pemeriksaan kesehatan dipercepat agar mereka tidak kelelahan menunggu antrean dan memiliki waktu istirahat yang cukup sebelum keberangkatan.

Untuk mendukung mobilitas, Kemenhaj menyiapkan sedikitnya 25 kursi roda hibah dari Gubernur, ditambah bantuan dari BBPKK. Jumlah petugas kesehatan juga ditingkatkan agar pelayanan lebih responsif.

“Lansia kami dahulukan dalam pemeriksaan kesehatan. Ini penting supaya kondisi mereka tetap terjaga sebelum berangkat,” jelas Syafii.

Selain itu, pendampingan juga disiapkan melalui petugas kloter dan tenaga kesehatan yang akan membantu jemaah lansia dan disabilitas selama menjalani seluruh rangkaian ibadah.
Skema Khusus Saat Puncak Ibadah

Pada pelaksanaan ibadah di Tanah Suci, terutama pada fase yang membutuhkan fisik kuat seperti wukuf, tawaf, dan sa’i, Kemenhaj menerapkan pendekatan ramah lansia dan disabilitas.

Salah satu skema utama adalah murur, yakni pergerakan jemaah dari Arafah langsung menuju Mina tanpa berhenti lama di Muzdalifah.

“Murur ini sangat membantu lansia dan disabilitas karena kondisi di Muzdalifah padat dan cukup berat. Dengan skema ini, mereka tidak perlu bermalam di sana,” katanya.

Selain itu, penggunaan kursi roda serta bantuan petugas akan dimaksimalkan untuk membantu jemaah dalam menjalankan tawaf dan sa’i, sehingga tetap dapat menunaikan ibadah secara aman.

Perhatian terhadap lansia juga terlihat dari sisi konsumsi. Dalam kegiatan meal test yang melibatkan Gubernur, Forkopimda, serta Dinas Kesehatan dan BBPKK, salah satu fokus utama adalah penyesuaian tekstur makanan.

“Makanan dengan tekstur keras kami evaluasi. Untuk lansia, kami arahkan ke makanan yang lebih lembut agar mudah dicerna dan tetap menjaga kebugaran mereka,” ujar Syafii.

Syafii menambahkan, kesiapan layanan tahun ini juga ditopang oleh persiapan yang lebih awal. Dokumen dan visa jemaah telah selesai sejak Ramadan, serta penyusunan kloter dilakukan lebih cepat.

Kloter pertama dijadwalkan masuk asrama haji pada 22 April, dengan proses persiapan dimulai sejak pukul 05.00 WIB dan keberangkatan pukul 11.35 WIB.

“Dengan berbagai kesiapan ini, kami ingin memastikan jemaah lansia dan disabilitas bisa menjalankan ibadah dengan lebih nyaman, aman, dan tetap khusyuk,” pungkasnya.(*)

UPDATE