
batampos – Upaya mempercantik wajah Kota Batam melalui program penghijauan kembali diuji. Puluhan batang pohon jati emas yang ditanam di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, dari Simpang Legenda hingga menuju Bandara Internasional Hang Nadim, diketahui dipotong oleh orang tak dikenal.
Peristiwa ini terjadi di salah satu jalur utama yang selama ini diproyeksikan sebagai etalase kota bagi wisatawan dan investor. Ironisnya, pohon-pohon yang dirusak merupakan bagian dari program penghijauan berskala besar yang baru beberapa tahun terakhir dijalankan.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait mengatakan pihaknya baru menerima laporan dan segera menurunkan tim ke lapangan untuk melakukan verifikasi.
“Kami baru mengetahui informasi ini dan saat ini tim pertamanan sudah turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan,” ujarnya, Senin (4/5).
Baca Juga: Sudah 100 Hari Krisis Air di Tanjung Sengkuang, Warga Minta Solusi Permanen dari Pemerintah
Ariastuty mengaku prihatin atas kejadian tersebut. Menurut dia, pohon-pohon jati emas itu sebelumnya telah tumbuh dengan baik dan mulai membentuk lanskap hijau di sepanjang jalan protokol.
“Kami sangat sedih melihat kejadian ini. Pohon-pohon itu sudah mulai tumbuh bagus dan memberikan keindahan,” katanya.
Hingga kini, BP Batam masih mendata jumlah pohon yang dirusak sekaligus menelusuri pelaku pemotongan. Belum ada keterangan resmi mengenai motif di balik aksi tersebut.
Pohon-pohon yang dirusak merupakan bagian dari program penghijauan “Batam Green 2022”, sebuah inisiatif yang digagas untuk mengubah citra Batam menjadi kota modern yang tetap ramah lingkungan.
Dalam tahap awal program itu, sekitar 12 ribu pohon ditanam di sepanjang koridor menuju bandara.
Baca Juga: Bea Cukai Batam Perketat Pengawasan Pintu Masuk Khususnya untuk Memerangi Narkoba
Menariknya, program penghijauan ini tidak bersumber dari anggaran pemerintah. Seluruh pembiayaan berasal dari kolaborasi melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melibatkan perusahaan, perbankan, hingga yayasan di Batam.
Perusakan pohon di jalur strategis ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan terhadap aset lingkungan yang telah dibangun. Di satu sisi, pemerintah mendorong kolaborasi untuk memperkuat ruang hijau kota di sisi lain, perlindungan terhadap hasilnya masih menghadapi tantangan di lapangan.
BP Batam pun mengimbau masyarakat untuk ikut menjaga fasilitas penghijauan yang telah dibangun bersama. Tanpa partisipasi publik, upaya menjadikan Batam sebagai kota hijau berisiko terhenti di tengah jalan. (*)

