Sabtu, 23 Mei 2026

Pengusaha Batam Desak Nilai Tukar Rupiah Segera Distabilkan

spot_img

Berita Terkait

Ketua Apindo Kota Batam, Rafki Rasyid.

batampos – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) dan Dolar Singapura (SGD) mulai berdampak terhadap perekonomian di Kota Batam. Sebagai daerah industri dan perdagangan yang bergantung pada aktivitas ekspor-impor, kenaikan kurs dolar memicu lonjakan harga sejumlah barang kebutuhan masyarakat.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Kota Batam, Rafky Rasid, mengatakan kenaikan kurs dolar berpotensi memicu inflasi karena banyak kebutuhan pokok dan barang lainnya masih mengandalkan bahan baku impor dari luar negeri.

“Kenaikan kurs dolar bisa memicu kenaikan harga-harga kebutuhan masyarakat. Baik kebutuhan pokok maupun kebutuhan barang lainnya yang bahan bakunya diimpor dari luar negeri. Hal ini bisa memicu inflasi tinggi dan menggerus daya beli masyarakat,” ujarnya, Jumat (22/5).

Menurut Rafky, dampak kenaikan dolar memang tidak terlalu besar terhadap sebagian pengusaha di Batam yang bergerak di sektor ekspor-impor. Namun kondisi tersebut sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama kalangan pekerja.

Baca Juga: Maskapai Klaim Masih Tahan Kenaikan Harga Tiket Pesawat, Termasuk dari Batam

“Bagi pengusaha di Batam karena berorientasi ekspor dan impor mungkin tidak akan begitu berpengaruh. Tapi bagi masyarakat akan sangat berpengaruh,” katanya.

Ia menjelaskan, kenaikan nilai dolar turut menyebabkan harga sejumlah barang ikut naik. Tidak hanya minyak goreng dan oli, tetapi juga berbagai kebutuhan pokok lain, termasuk produk pertanian.

“Hampir semua bahan kebutuhan pokok harganya akan naik karena industri kita masih bergantung kepada impor. Ketika kurs rupiah melemah, otomatis harga barang kebutuhan ikut naik. Termasuk produk pertanian juga akan naik karena harga pupuk ikut meningkat,” jelasnya.

Selain berdampak terhadap harga barang konsumsi, pelaku industri di Batam juga menghadapi persoalan lain berupa kelangkaan bahan baku tertentu. Beberapa komponen industri seperti chip dan biji plastik disebut mengalami kelangkaan sehingga menyebabkan harga bahan baku melonjak.

“Kelangkaan ini mengakibatkan harga bahan baku naik yang memicu kenaikan biaya pokok produksi perusahaan di Batam. Artinya beban pengusaha di Batam terus bertambah akibat kelangkaan tersebut,” ungkap Rafky. (*)

 

BACA SELENGKAPNYA di harian.batampos.co.id

spot_img

UPDATE

Play sound